Kamis, 30 September 2010

TIGA SIKAP SIAP PUKUL DAN PANDANGAN PEMAIN PADA BOLA

Ada hubungan antara sikap siap pukul (stance) di “batter’s box” dengan hal untuk dapat melihat dengan bebas kearah pitcher. Pada dasarnya ada tiga jenis sikap siap pukul. Sikap netral adalah jika hitter memposisikan kedua ujung kakinya satu garis sejajar dengan home plate. Kedua ujung kaki itu berjarak sama dengan homeplate. Sikap itu membuat pemain dapat melihat pitcher dengan baik tanpa susah payah atau tanpa pemain akan merasa tidak nyaman di dalam batters’ box. Kebanyakan pemain liga utama menggunakan sikap pukul netral seperti ini. Salah satunya adalah Ken Griffey, Jr. Ingatlah bahwa kita hanya berbicara mengenai bagaimana pemain menempatkan posisi kedua kakinya di dalam batter’s box.Yang kita inginkan adalah untuk membangun dasar yang solid mulai dari sebelah bawah.

Sikap siap pukul yang kedua yang juga populer dikalangan MLB hitter adalah yang disebut sikap tertutup (closed stance). Sikap tertutup itu, maka kaki yang berada di sebelah arah ke pitcher ditempatkan sedikit lebih dekat ke homeplate daripada kaki sebelah belakangnya. Kata kunci disini ialah “sedikit”. Pemain mungkin akan terlalu berlebihan sehingga kakinya terlalu dekat homeplate sehingga siakp siap pukul justru menghambat gerakan pukulnya.Hitter hebat Tony Gwynn yakin bahwa stance inilah yang terbaik bagi kebanyakan hitter.
Sikap siap pukul terbuka (open stance) adalah kebalikannya. Kaki yang terdekat dengan bukit pitcher sedikit dijauhkan dari homeplate.Jay Buhner dari klub MLB Mariners adalah salah satu hitter yang cukup dikenal yang menggunakan sikap siap pukul terbuka. Lebih sedikit hitter MLB menggunakan sikap ini, karena jelas lagi bahwa jarak ayunan yang lebih jauh ke zona pukul. Sikap terbuka membuat hitter harus melakukan lebih banyak tugas ketika lemparan pitch sedang menuju plate, agar supaya hitter dapat mengambil posisi memukul yang benar. Akan kita bahas lagi nanti.
Jadi sikap siap pukul manakah yang cocok? Setiap sikap memiliki keuntungan dan kerugiannya masing masing. Sebelum memilih salah satu, sebaiknya pemain melakukan sebuah test. Begitu pentingnya pemain dapat melihat bola dengan baik, maka kita perlu mengetahui mata sebelah mana yang leboh dominan (lebih aktip melihat). Mata dominan itulah yang bekerja lebih banyak ketika kita melihat sesuatu. Mata itu mengirim “pesan” ke otak tentang dimana bola berada terhadap benda benda lain disekeliling pandangan mata itu. Mata yang sebelah lagi juga mengerjakan tugas yang sama, namun mata yang dominanlah yang mengirim informasi yang lebih cermat. Ingatlah bahwa kita ingin mengungguli pitcher sehingga kita harus menggunakan segala hal yang menguntungkan kita.

Ulurkan tangan ke depan dengan jari jempol ditonjolkan seakan akan memberi tanda sanjungan “thumbs up”. Buka kedua mata lalu pilih sebuah benda yang jaraknya sekitar 7 meteran di depan pemain. Posisikan jari jempol itu sehingga ujungnya menuntupi benda yang sudah dipilih tadi. Lalu tutup mata sebelah kiri. Apakah jari jempol itu tampak seakan akan bergeser kekiri? Jika benar demikian, maka mata sebelah kiri itulah yang dominan. Jika tidak terjadi sesuatu apapun juga dan jari jempol itu masih menutup benda yang sudah dipilih tadi, maka tutuplah mata sebelah kanan. Jika jari jempol itu seakan akan melompat ke sebelah kanan, maka mata sebelah kananlah yang dominan.

Mengapa pengetesan ini penting bagi pemain? Jawabnya adalah agar pemain dapat menggunakan mata yang dominan itu untuk memukul bola. Dengan memilih sikap siap pukul yang membuat mata yang dominanlah yang bekerja amatlah penting. Idealnya mata yang dominanlah yang berada di sebelah pitcher berada yaitu yang dekat dengan pitcher. Yaitu mata sebelah kiri bagi hitter kanan dan mata kiri bagi pemukul kidal. Sayangnya bagi kebanyakan pemain justru sebaliknyalah yang lebih sering terjadi. Pemukul kanan umumnya memiliki mata kanan yang dominan dan sebaliknya pemukul kidal memiliki mata kiri yang dominan.
Dengan mata dominan itu diposisi lebih dekat dengan pitcher akan dapat membuat hitter dapat mengikuti bola sampai ke zona pukul. Inilah salah satu faktor yang dapat membantu menjelaskan mengapa “switch hitter” (pemain yang dapat memukul kidal maupun kanan) dapat memukul lebih baik dari satu sisi saja. Dengan tidak memiliki keuntungan itu tidak berarti pemain tak akan dapat jadi hitter yang bagus..
Artinya, kalau pemain sudah tahu mata sebelah mana yang mengirim gambar/pesan yang lebih cermat ke otaknya, maka pemain harus mengambil posisi sehingga ia dapat melihat bola dengan mata yang dominan itu.

Tampaknya itulah sebabnya kebanyakan hitter MLB memilih mengambil posisi siap pukul yang netral. Namun sangat diragukan bahwa mereka itu sadar betul mata sebelah mana yang dominan untuknya. Sangat boleh jadi setelah mencoba coba bertahun tahun mereka akhirnya memilih sebuah posisi tertentu karena dia dapat melihat bola dengan lebih baik. Cara coba coba yang harus dilakukan dalam waktu lama itu tidak akan diperlukan, jika pemain tahu matanya yang sebelah mana yang dapat melihat bola dengan lebih baik. Dari posisi siakp siap yang netral, pemain dapat memposisikan kepalanya diatas bahunya dengan nyaman untuk melihat bola dengan kedua matanya, lalu melihat bola itu dengan matanya yang dominan. Cara itu disebut penglihatan binocular, menggunakan kedua belah mata.
Jelaslah bahwa kalau pemain menggunakan sikap siap pukul yang terbuka maka dia dapat menggunakan kedua belah matanya. Namun ada alasan mengapa cara itu tidak terlalu sering digunakan oleh hitter hitter hebat. Penglihatan yang lebih baik itu harus dibayar dengan lebih banyaknya yang harus mereka kerjakan untuk mendapatkan ayunan pukul yang benar dan baik. Semakin sederhana gerakan ayunan pukul dapat dilakukan, maka pemain akan menggapai keberhasilan lebih besar. Sekali lagi, hal ini akan kita bahas lagi kelak.
Sikap siap pukul tertutup memiliki keunggulannya sendiri. Pemian dapat memposisikan kepalanya di atas bahunya untuk menggunakan kedua matanya untuk melihat dan mengikuti bola. Juga lalu dapat “meliput” daerah plate yang lebih luas. Stan Musial adalah seorang hitter hebat masa lalu dan sepanjang masa yang menggunakan siakp siap pukul sedikit tertutup itu. Jika sekiranya kita dapat melihatnya dari arah bukit pitcher ketika dia mengambil sikap siap pukul itu, maka kita boleh jadi akan berpendapat bahwa lehernya terbuat dari karet karena dia dapat memutar menolehkan kepalanya jauh sekali. Karena itulah dia mampu melihat bola dan mengikuti layangan bola dengan sangat baik.
Untuk menyimpulkan artikel ini: karena kita membina hitter yang baik langkah demi langkah, pilihlah sikap siap pukul yang memungkinkan pemain dapat melihat bola sangat baik. Dengan mempertimbangkan mata sebelah mana yang dapat lebih baik mengirim informasi ke otaknya. Komputer yang ada di dalam kepala itu harus diberi informasi yang akurat jika pemain ingin berhasil melakukan sebuah “tugas” fisik yang dikatakan orang “yang paling sulit dilakukan di cabang olahraga manapun juga”.

sumber: situs "beabetterhitter"

MEMEGANG BAT - BERAWAL DITANGAN

Tanganlah satu satunya yang menghubungkan pemain secara fisik dengan bat pemukul baseball. Tak mungkin dipegang dengan lengan, dengan bahu, apalagi dengan kaki atau dengan bayangan pikiran saja. Hanya bagian badan yang disebut tangan saja yang menyentuh bat. Boleh saja bahkan harus juga menggunakan bagian badan lain untuk mengayunkan bat dengan benar, tetapi satu satunya penghubung fisik dengan bat adalah kedua tangan pemain.
Karenanya, sangat masuk akal bahwa ketika pemain ingin jadi hitter yang bagus, maka pemain harus mengawalinya dengan dasar memegang bat yang benar. Pegangan itu harus membuat agar bagian tubuh lain, kalau sudah di”kenalkan” dengan gerakan yang benar, akan melakukannya dengan baik, efisien melalui kedua tangan untuk menghasilkan ayunan pukul yang kuat, efektip, terkendali dan dapat dilakukan kapan saja dikehendaki pemain.

Pegangan bat yang baik dilakukan dengan memegang pegangan bat oleh (terutama) bagian jari tangan. Untuk melakukannya, letakkanlah pegangan bat di atas pangkal ruas jari tangan di kedua belah tangan. Lalu tutupkan kedua tangan “membungkus” pegangan bat.
Jangan melakukan pegangan yang terlalu erat. Peganglah dengan santai di jari tangan seakan akan memegang seekor burung kecil di kedua tangan itu. Burung itu harus dipegang cukup kencang agar tdaik lepas terbang pergi, namun jangan terlalu erat sehingga akan menyakitinya.

Pegangan yang “ringan” seperti itu akan membuat otot tangan, pergelangan dan lengan bawah akan tetap “loose” dan senantiasa siap beraksi. Otot yang “loose” adalah otot yang dapat bereaksi cepat. Banyak orang berpikir dengan memegang bat sangat erat, sambil menggeretakkan gigi dan mengencangkan otot lengan, maka ia akan dapat memukul lemparan pitch fastballnya Nolan Ryan. Justru sebaliknyalah yang benar. Otot yang tegang akan lamban. Ketegangan itu akan menghambat otot lain yang mungkin tidak disadari pemain juga akan atau telah digunakannya untuk membantu ayunan pukulnya. Pernahkah lihat seorang pemain liga utama (major league) yang memegang bat dengan enteng lalu mengulang pegangan itu berkali kali ketika dia menantikan bola lemparan pitch? Pemain MLB itu sedang mengingatkan dirinya kembali untuk memegang bat dengan ringan dan enteng.

Ketika menyaksikan pertandingan tinju di televisi, kita acap mendengar komentator mengucapkan di awal pertandingan bahwa para petinju masih sedang tegang, dan mereka itu kurang “loose”. Terutama sekali pada pertandingan memperebutkan juara karena para petinju akan menjadi tegang berlebihan. Ketegangan membuat otot kaku dan melambatkannya. Ketika pertandingan sudah berjalan barulah para petinju dapat menyesuaikan diri dan mulai mampu melayangkan pukulan pukulan dengan cepat dan bertenaga. Kecepatan tinggi itu adalah akibat otot ototnya sudah mulai rileks untuk lebih tanggap menerima perintah yang dikirim oleh dan dari otak.
Pelajaran nomer satu: Otot yang “loose” akan bergerak cepat. Jadi peganglah bat dengan enteng tapi kuat dengan jari kedua tangan.

Cara paling mudah menjamin bahwa pemain mempertahankan pegangan bat dilakukan di bagian jari adalah dengan memutar tangan itu sedemikian rupa sehingga buku jari nomor dua di kedua belah tangan berada satu garis.

Jangan sekali kali memegang bat di bagian telapak tangan! Memegang bat dengan cara itu menghambat fleksi pergelangan ketika melakukan gerak ayun dan akan merampas kecepatan dan tenaga alamiah pemain. Pegangan di telapak tangan itu juga dapat menyakitkan pemain. Di pelbagai tingkatan atlit, kita acap menyaksikan batter mengenai bola dengan pegangan bat yang salah lalu dia mendapat cedera bilur bilur di telapak tangan sebelah atas di bagian atas tangannya. Bilur bilur itu akan bertahan beberapa hari bahkan beberapa minggu. Diharapkan setelah pemain mendapatkan cedera bilur itu ia lalu baru akan percaya untuk memegang bat di bagian jarinya.

Jika pemain tak merasa nyaman meluruskan buku jari seperti digambarkan di bagian atas itu, cobalah memutar kedua tangan sampai buku jari kedua dan buku jari ketiga menjadi satu garis. Pegangan itu acap disebut sebagai pegangan kotak (box grip) dan digunakan cukup banyak pemain liga utama. Pada kedua cara itu penting agar pemain merasa nyaman. Jadi, pilihlah salah satu cara itu yang dirasa paling enak untuk ukurandan bentuk tangan pemain lalu tetaplah mempertahankan cara itu.
Kedua cara itu awalnya dapat membuat pemain merasa kurang nyaman, namun tetaplah penting untuk memilih salah satu cara yang paling cocok untuknya lalu berlatih berulang ulang. Dalam waktu singkat gerakan itu dapat dilakukan secara alamiah dan otomatis untuk memegang bat dengan jari tangan. Kalau hal itu sudah terjadi, maka pemain sudah memiliki dasar untuk melakukan bagian lain gerakan ayunan yang dijalankan secara efektip.
Cara memegang bat merupakan dasar yang pertama harus dikuasai pemain jika dia ingin menjadi hitter yang bagus. Ingatlah selalu bahwa tangan itulah bagian tubuh yang menyambung langsung dengan bat. Bat itulah satu satunya yang perlu dibenturkan dengan bola. Kuasai dulu dasar fundamental ini sehingga dapat dikerjakan pemain dibawah sadarnya sehingga tidak perlu harus dipikirkan lagi setiap kali memukul.
Beberapa hitter hebat di sepanjang sejarah liga utama (major league) sering disebut sebut suka membawa bawa bat kemana mana. Dengan membawa bat, dia membiasakan diri merasakan pegangan bat ditangannya, menggenggamnya, merasakan bobot bat dan merasa nyaman dengan bat itu. Tentu saja sikap pengabdian seperti itu patut diteladani.
Hal bagus tentang berlatih memagang bat ialah pemain tidak perlu berada dilapangan baseball. Tak perlu ruang tambahan yang besar. Pemain dapat berlatih memegang bat sambil menonton acar televisi kegemarannya. Akan lebih baik kalau dilakukan sambil sambail menonton pertandingan Major League Baseball. Jika dilakukan sambil menonton baseball, maka pemain dapat memperlajari bagaimana hitter liga utama memegang batnya. Perhatikan bagaimana pegangan itu dilakukan dengan lemas (loose). Pemain dapat belajar banyak jika dia tahu apa yang dicarinya..
Ingatlah, “loose” atau pegangan yang lemas, nyaman dan dipegang di bagian jari tangan.
Gambar berikut adalah tangan Pemain hebat Ted Williams yang sedang memegang bat. Gambar ini dibuat tahun 1993, lebih dari 50 tahun setelah dia menjadi hitter MLB yang membuat pukulan hit .400 (40 %) dalam satu musim. Kelihatan hal hal yang mirip atau dikenali?



sumber: situs "beabetterhitter"

MEMBANGUN DASAR YANG KOKOH Untuk HITTING

Ketika membina sikap siap pukul yang bagus, ada dua faktor penting yang harus diutarakan disini. Maksud dan tujuan mengambil sikap siap pukul (stance) ialah agar pemain memiliki peluang terbesar untuk dapat melihat bola dengan jelas. Yang kedua, agar pemain memiliki keseimbangan tubuh sehingga dapat membuat ayunan pukul yang perkasa untuk memukul bola dengan kencang dan jauh ke arah manapun. Kedua faktor itu sesungguhnya bekerja sama. Jika pemain memiliki keseimbangan tubuh yang bagus, maka akan kecil kemungkinannya pemain akan menggerakkan atau memutar kepalanya ketika mengayunkan pukulan. Jika pemain tidak menggerakkan kepala, maka pemain itu akan dapat melihat bola lebih baik dan dengan sendirinya akan lebih berhasil membuat pukulan. Selain itu, bukan saja daya pandang untuk melihat bola itu saja yang kita bicarakan disini. Gerakan kepala dan akibat akibatnya atas keberhasilan membuat pukulan akan dibahas lebih rinci di artikel artikel lain.

sumber: situs beabetterhitter

Kamis, 26 Agustus 2010

Bermain Baseball Di Posisi Outfield

Perlunya Memiliki Dasar Fundamentals

Ketika menyaksikan pertandingan pertandingan di Liga Utama Amerika acap merasa takjub kurangnya dasar dasar fundamental yang dimiliki pemain di outfield. Di sebuah pertandingan World Series antara Giants dan Angels seorang pelari berhasil menghasilkan angka dari pukulan lambung yang masih terhitung dekat di lapangan kanan hanya karena outfielder itu memainkan bola secara sangat tidak baik. Bukanlah tangkapan yang terlalu sulit, dan juga ia tidak disilaukan karena menghadapi matahari. Yang dilakukannya ialah bersantai mendekati bola dan sedang mundur ketika dia menangkap bola pukul itu. Pelari sangat menyadari adanya peluang dan mencetak angka yang kalau outfielder dalam keadaan waspada, siaga dan cekatan ia tak mungkin dapat mencetak angka itu. Ini bukan satu satunya contoh permainan buruk outfielder, kita dapat menyaksikannya hampir setiap hari di pertandingan Liga Utama. Yang tidak dapat dipahami adalah mengapa para manajer Liga Utama itu dapat mentolerir permainan buruk yang terjadi di outfield. Para manajer itu tak akan mau kompromi jika permainan buruk itu dilakukan di infield oleh para infielder. Bukan berarti bahwa tidak ada pemain bertahan diposisi outfield yang bermain hebat, namun Cuma ingin menyatakan bahwa tampaknya standar permainan di posisi outfield tampaknya lebih rendah.
Pembaca boleh setuju atau tidak sepakat, bagaimanapun juga kita lalu bertanya tanya apa urusannya opini ini dengan kepelatihan baseball untuk pemain belia? Tentu ada hubungan dengan nilai dan prioritas yang ditempatkan oleh coach guna membina pemain bertahan di outfield yang paling kokoh. Jika permainan bertahan di level pemain dan di regu profesional standarnya demikian tidak berkwalitas, lalu bagaimana dengan yang ada di kalangan pemain dan regu baseball belia?
Banyak coach “menyembunyikan” pemain pemain yang kurang berkwalitas di posisi outfield dengan harapan bahwa mereka tidak akan perlu banyak memainkan bola. Bukan dengan maksud agar coach memindahkan pemain terbaik yang dimiliki seorang coach untuk bermain di posisi lapangan kanan atau kiri (right atau left field), namun amat dianjurkan untuk mengajarkan keterampilan bermain di outfield seraya meningkatkan kwalitas yang diharapkan. Dijamin keterampilan regu itu dalam permainan bertahan di outfield akan terangkat. Coach harus menyadari bahwa permainan di outfield dapat ditingkatkan secara drastis dengan merancang dan mengimplementasikan sebuah sistem yang memberi tekanan pada betapa pentingnya permainan di outfield agar regu itu dapat lebih cemerlang.

Pengharapan Coach dan Pemain

Akibat para pemain di posisi outfield memang lebih jarang mendapat bola sehingga jarang mendapat peluang memainkannya, maka akan lebih sulit bagi pemain itu untuk secara mental senantiasa fokus pada pertandingan yang sedang berlangsung. Ada keyakinan kita pernah melihat bola terpukul ke outfield dan pemain yang berjaga disitu justru sedang tidak konsentrasi dan bahkan sedang mengelamun. Kendatipun memalukan, namun juga sangat mudah dipahami. Coach perlu sekali mencoba mendefinisikan kembali apa makna “beraksi” bagi pemain pemain itu. Bagi kebanyakan pemain, beraksi artinya ada kesempatan untuk melakukan sebuah permainan dengan bola. Coach perlu mencoba meyakinkan pemain bahwa beraksi itu sebuah tindakan untuk berada pada posisi untuk dapat memainkan bola. Akan diperlukan kesigapan dan senantiasa mengawasi pertandingan dan harus dapat dilakukan pada setiap permainanyang terjadi di sebuah pertandingan, tanpa memperdulikan apakah pemain itu menyentuh bola atau tidak. Jika pemain sama yakinnya dengan coach tentang definisi “beraksi” maka coach akan lebih dapat mencapai keinginan agar para outfielder akan senantiasa siap memainkan setiap permainan sepanjang sebuah pertandingan.

Mengubah Keinginan atau Harapan Menjadi Kenyataan

Membuat definisi berbeda dengan mewujudkan kenyataan. Coach selalu verupaya agar outfiledernya selalu fokus. Di bagian yang membahas Hampiran Pendekatan, pemain menyiapkan diri pada setiap lemparan pitch. Agar outfielder tetap fokus, maka langkah berikut adalah mendefinisikan peranan outfielder termasuk apa yang diharapkan dapat dia lakukan. Setiap pemain di lapangan memiliki peranannya masing masing dan pada setiap permainan selama pertandingan yang juga mencakup peran para outfielder.
Sebuah contoh yang sering kita lihat terutama di liga liga pemain belia. Ada sebuah lemparan ke base yang terlalu tinggi sehingga tak terjangkau dan bola menggelinding ke outfield sedangkan outfielder hanya berdiri saja di posisinya sehingga pelari dapat mengambil satu atau bahkan dua base tambahan. Coach meneriaki para outfielder, “Mengapa tak kau bantu jaga base itu?” Pemain hanya mengangkat bahu dan kembali ke posisinya masing masing. Mereka tak memiliki jawaban. Boleh jadi pernah dibicarakan pada sebuah sesi latihan, tetapi mereka belum pernah turut menjaga di belakang base di sebuah pertandinganpun sedangkan coach tak pernah berkata sepatah katapun. Bagaimana mereka akan tahu bahwa akan terjadi sebuah lemparan yang melewati kepala penjaga base?
Walaupun coach pernah membahas tentang pentingnya turut menjaga di belakang base ketika sedang latihan; kalau dia tak mengatakan apapun juga ketika latihan itu tidak dipraktekkan sehingga bola tak berhasil dikuasai, maka coach telah meremehkan betapa pentingnya untuk turut jaga (mem-back up) base. Di bagian “Mendukung Base (Backing Up) maka ada bahasan dimana pemain harus mengambil posisi di setiap permainan. Ada saat dimana lebih penting untuk memberi tekanan betapa pentingnya outfielder tetap siaga dan waspada sehingga dapat sewaktu waktu membantu regunya di setiap permainan. Hanya dengan mengatakannya beberapa kali tidaklah cukup. Coach harus memberi umpan balik positip selama latihan dan juga ketika bertanding ketika pemain itu bergegas mencari posisi yang terbaik untuk membantu timnya.

Saran Coaching

  • Beri tekanan betapa pentingnya agar outfielder mencoba melibatkan diri di setiap permainan.

  • Beri umpan balik positip selama latihan atau ketika bertanding jika outfielder berada di posisi yang benar (baik ketika keterlibatannya dibutuhkan maupun ketika TIDAK diperlukan).

  • Jika dia tidak berada di posisi yang benar, bahaslah ketika jeda inning sehingga mereka mengerti benar apa yang diharapkan dari mereka.

  • Sadarilah bahwa akan perlu waktu bagi pemain untuk belajar kemana harus mencari posisi pada pelbagai situasi permainan.

  • Tentukan posisi tertentu kemana mereka harus berada jika bola tidak terpukul ke arahnya. Lihat Mendukung Base (Backing Up)

Di penghujung tulisan tentang posisi outfield ini membahas keterampilan yang harus dimiliki outfielder yang bagus. Masih terlalu sering dimana keterampilan sudah terbina tetapi anak anak pemain masih gagal melaksanakan dan mengerjakan keterampilan itu karena pemain itu tidak fokus pada pertandingan. Di bagian Hampiran Pendekatan dan Mendukung Base (Backing Up) diberikan beberapa siasat agar para outfielder tetap “ada” di pertandingan.

Hampiran Pendekatan

Petunjuk Untuk Pemain

Keberhasilan bermain di posisi outfield berawal dari melakukan banyak pengulangan. Akan perlu waktu cukup lama dan banyak latihan untuk berhasil menjadi pemain outfielder pertahanan yang bagus. Upayakan agar mendapat latihan yang menyenangkan agar tidak merasa bosan. Tantang diri sendiri dan rekan rekan untuk melakukan permainan permainan yang sulit selama berlatih dan di waktu luang sempatkan dirimu melakukan permainan permainan itu seakan akan dalam sebuah pertandingan. Ada beberapa permainan mengasyikkan dan cukup spektakuler yang dapat dilakukan di outfield, siapkan dirimu baik baik untuk dapat melakukannya.

Senantiasa Siap Waspada

Kadangkala senantiasa waspada dan siap ketika berada di outfield akan sulit dilakukan. Pemain harus tetap fokus untuk bermain di outfield. Mungkin ada beberapa inning dimana pemain di outfield tak mendapat kesempatan menyentuh bola sehingga pemain jenuh dan bosan. Salah satu cara untuk fokus ialah menemukan rutin yang dapat digunakan ketika bermain dan bertanding. Rutin itu akan membuat pikiran pemain melanglang-buana kemana mana dan akan membuatnya senantiasa sigap waspada. Dibawah ini beberada contoh rutin yang dapat dilakukan outfielder.
Contoh Rutin
  • Pra Bertanding
  1. Visualisasi – pemain membayangkan dirinya melakukan aneka permainan (plays) di pertandingan hari itu. Dari mulai melakukan tangkapan lewat atas bahu sambil berlari mundur sampai melempar mati pelari di plate. Melihat lemparan pitch, pukulan batter, reaksi pemain dan kegemilangannya sendiri karena telah berhasil. Berharap hari ini ada peluang melakukan permainan permainan itu.
  2. Periksa lapangan – apakah ada daerah yang dapat menimbulkan masalah? Adakah jalur peringatan (warning track) yang dapat dirasakan berbeda atau terdengar berbeda oleh pemain? Adakah cukup ruang di daerah foul?
  • Ketika jeda inning
  1. Siapa yang akan mendapat giliran pukul pada inning berikut dan apa saja yang telah mereka lakukan dan kerjakan sebelumnya.
  2. Berapa kedudukan angka? Inning keberapa? – Untuk menentukan tingkat keagresipan pemain pada situasi situasi tertentu.
  • Sebelum pemukul mendapat giliran pukul
  1. Bagaimana situasinya? Berapa mati, berapa pelari di base, dimana dan kedudukan angka.
  2. Siapa hitter yang sedang dapat giliran? Apa yang sudah dia hasilkan sebelumnya?
  • Sebelum setiap lemparan pitch
  1. Berapa hitungan pitch?
  2. Apa kira kira yang akan dilakukan oleh lawan? Curi base, pukul-lari (hit and run), pukulan ketok (bunt).
  3. Dimana pemain harus berposisi pada setiap situasi itu?
Temukan dan lakukan rutin pemain sendiri. Sesuatu hal yang akan membuat pikirannya senantiasa bekerja dan berfungsi sehingga selalu fokus pada pertandingan. Peluang melakukan permainan tak akan muncul setiap inning, namun ketika peluang dan kesempatan itu ada, pemain harus sudah siap siaga.

Saran Untuk Coach Pemain Belia

Tergantung pada usia anak anak pemain, coach dapat mengajarkan sebagian rutin saja. Setiap tahun, mereka dapat lebih belajar lebih banyak lagi. Dengan mengajarinya rutin di masing masing posisi maka coach dapat membuat mereka lebih memahami permainan baseball. Awali dengan pelajaran memberi dukungan (back-up) sebuah base. Anak anak sangat menggandrungi berlari lari dan dengan pelajaran memberi dukungan ke sebuah base pada permainan tertentu, maka mereka dapat berlari lari dan juga belajar membuat keputusan dimana mereka harus mencari posisi. Walaupun sekiranya dia tidak berlari ke tempat yang benar, mereka tetap dapat berlari lari dan mencoba menanggapi setiap permainan. Dan hal itu tentu saja sebuah peningkatan daripada berdiri dan berdiam diri saja seraya memandang ke langit yang akan membuat mereka bosan.

Posisi Awal

Ambil posisi atletis. Banyak terjadi para outfielder berdiri tegak atau memposisikan tubuh atasnya ditopang oleh kedua lututnya ketika pitcher melempar pitch. Para outfielder ini tidak akan siap siaga menyerbu bola. Pemain outfield harus bersiaga sama seperti pemain infield. Perbedaan utama pada sikap outfielder dari infielder ialah bahwa outfielder tidak perlu membungkuk terlalu dalam. Bengkokkan kedua lutut, kedua kaki berjarak selebar bahu, lengan dibengkokkan dan diposisikan didepan tubuh.

Saat Lemparan Pitch

Ketika pitcher melempar pitch, ambil sikap siaga bergerak. Berat badan bertumpu di telapak kaki (bukan tumit), sehingga pemain siap bertolak bergerak ke segala arah. Dari posisi atletis berpindah ke posisi siap, gunakan gerakan tertentu. Ambil langkah lompatan kecil guna mengambil posisi siaga, atau ambil langkah langkah kecil ke depan dengan meindahkan bobot tubuh dari satu sisi ke sisi yang lain. Apapun gerakan yang dipilih pemain, pilihlah saat yang benar sehingga bobot tubuh dapat disebar secara merata dan bertumpu di atas telapak kaki ketika bola lemparan pitch melintas di atas plate.
Gambar di sebelah kanan menunjukkan langkah geser ke depan dilakukan pemain untuk mengambil posisi siaga. Perhatikanlah bahwa kedua tangan TIDAK diletakkan diatas lutut ketika di posisi siaga itu. Juga tidak perlu mengulurkan tangan ke depan sejauh yang ditunjukkan gambar itu, namun kedua tangan berada di posisi yang memungkinkan pemain bergerak cepat.

Mendukung Base (Backing Up)
Salah satu cara terbaik untuk tetap siaga di pertandingan dan membantu pertahanan regu ialah dengan cara selalu siap mendukung pertahanan pada setiap permainan (play) ketika bola tidak terpukul ke arah pemain itu sendiri. Dengan mendukung pertahanan maka pemain dapat mencegah para pelari untuk maju karena lemparan yang melenceng dapat segera dikuasai kembali.
Contoh contoh berikut dapat menjadi penjelasan tentang apa yang dimaksud:

Posisi – Lapangan Kanan (Right Field)
  • Situasi: Pelari di Satu, batter mengetok (bunt) bola ke infield, bola diambil infielder namun lemparan ke Satu melenceng. Jika outfielder kanan turut mendukung menjaga di belakang base Satu, maka kemungkinan sangat besar outfielder itu akan menguasai bola lempar yang melenceng itu dan mencegah pelari dari Satu mencapai Tiga dan sangat mungkin pula menahan batter untuk hanya sampai di Satu saja.
Posisi – Lapangan Tengah (Center Field)
  • Situasi: Pelari di Satu, bola terpukul balik ke arah pitcher, Bola dikuasai pitcher tetapi lemparannya ke Dua melenceng atau terlalu tinggi. Jika outfield di lapangan tengah tidak bergerak maka pelari akan dengan mudah dapat mencapai Tiga. Tetapi jika outfield turut menjaga kalau ada lemparan melenceng, pelari sangat mungkin akan tertahan di Dua saja.
Posisi – Lapangan Kiri (Left Field)
  • Situasi: Pelari di Satu, peluang double play ketika bola terpukul ke arah Penjaga Base Satu, namun lemparan Penjaga Base Satu itu melempar ke short stop terlalu tinggi. Jika outfielder di lapangan kiri turut menjaga di belakang base Dua, maka sangat mungkin pelari terdepan itu dapat dicegah maju terus ke base Tiga. Jika tidak, maka pemain serang itu sangat mungkin akan maju terus sampai ke Tiga, bahkan mungkin dapat mencetak angka (run).
  • Situasi: Pelari di Dua, batter mengetok (bunt) bola, yang lalu diambil pitcher, yang ketika melempar ke base Tiga melenceng dari sasaran. Jika ada outfielder yang turut mendukung permainan itu dengan menjaga di belakang base Tiga, maka pemain itu akan dapat menahan pelari itu untuk maju lagi, membuat angka dan mencegah batter mencapai base Dua.
Seperti digambarkan pada contoh contoh diatas, memberi dukungan dapat mencegah keadaan yang buruk menjadi lebih buruk lagi.

Saran Untuk Coach

Manfaat lain memberi dukungan atas setiap permainan, maka pemain tidak saja menunjukkan kepada coachnya dan kepada seluruh rekan satu tim etika kerja tingkat tinggi yang dimiliki dan kerajinannya. Dua watak yang tidak boleh tidak harus dimiliki pemimpin.

Situasi

Berikut beberapa situasi termasuk juga tanggung jawab para outfielders. Memang belum dapat mencakup seluruh skenario, namun diharapkan akan memberi beberapa informasi kepada pemain atau coach yang belum mengetahui kemana outfielder harus mencari/ mengambil posisi untuk memberi dukungan permainan yang akan terjadi. Pada semua situasi penting untuk mengetahui dan menyadari seorang outfielder mungkin akan dibutuhkan bantuannya pada permainan pengepungan atau rundown. Dengan memberi dukungan, outfielder itu menempatkan dirinya pada posisi untuk sewaktu waktu dapat membantu pada situasi itu sekalipun.

Bola Pukul Ke Arah Kiri Infield


Outfielder Kiri (Left Fielder)
  • Tanggung jawab utamanya memberi dukungan (back up) infielder yang berupaya menangkap/menguasai bola.
  • Setelah bola ditangkap, bergerak bergeser ke posisi untuk mendukung permainan yang mungkin terjadi di base Dua atau Tiga tergantung dimana posisi pelari.
Outfielder Tengah (Center Fielder)
  • Tanggung jawab utama memberi dukungan infielder yang menangkap bola atau mendukung base Dua jika bola terpukul balik ke arah pitcher dan akan ada percobaan melakukan double play.
  • Setelah bola ditangkap, bergerak dan bergeser posisi menjadi pendukung permainan (play) yang mungkin akan dilakukan di base Dua.
Outfielder Kanan (Right Fielder)
  • Tanggung jawab utamanya adalah memberi dukungan base Dua ketika akan ada permainan mematikan dua pelari (double play) dan turut menjaga base Satu ketika tidak ada pelari di base.
  • Jika bola tembus melewati infield, menghentikan langkah dan lalu pindah untuk mendukung base Dua.

Bola Terpukul Ke Arah Kanan Infield

Outfielder Kanan (Right fielder)
  • Tanggung jawab utama memberi dukungan (back up) infielder yang akan menangkap bola.
  • Setelah bola berhasil ditangkap, bergeser posisi untuk mem-back up permainan yang mungkin terjadi di base Dua.

Outfielder Tengah (Center fielder)
  • Tanggung jawab utama mem-back up infielder yang sedang akan menangkap bola atau base Dua jika bola terpukul balik ke arah pitcher dan ada kemungkinan akan dilakukan double play.
  • Setelah bola berhasil ditangkap, pindah posisi untuk mem-back up permainan yang mungkin akan terjadi di base Dua.
Outfielder Kiri (Left fielder)
  • Tanggung jawab utama mem-back up base Dua atau base Tiga.

Komunikasi Ketika Bola Terpukul Lambung

Tanggung Jawab Siapa? – Mengajarkan Siapa Harus Menangkap Bola Pukul Lambung Jauh dan Dekat


Bola terpukul ke kiri tengah, siapakah yang paling berhak menangkapnya? Bagaimana dua pemain bertahan akan menentukan siapa yang lebih berhak dan mendapat prioritas menangkap bola? Situasi seperti ini akan sering kali terjadi di lapangan untuk pemain posisi jaga manapun juga dan dapat berakibat tubrukan antara para pemain atau bahkan dapat juga terjadi para pemain saling mengandalkan dan akan hanya saling menonton bola jatuh ke tanah di tengah tengah mereka tanpa ada yang berusaha menangkapnya. Situasi lebih runyam ketika bola terpukul di atas kepala shortstop atau Penjaga Base Dua. Maka ada tiga pemain yang akan terlibat. Begitu juga ketika bola pukul lambung dekat (pop up) di dekat bukit pitcher. Mungkin ada 3 atau 4 pemain yang dapat me”main”kan booa yang satu ini. Menyiapkan tim untuk menghadapi situasi situasi seperti itu wajib dilatihkan, namun terlebih dahulu disusun dan dirancang sistem komunikasi antara pemain.
Untuk mencegah kekacauan yang dapat terjadi pada situasi situasi itu penting agar coach mengajarkan kepada timnya:
  1. Posisi mana yang paling berhak dan mampu untuk meneriakkan agar pemain lain menyingkir atau menghindar. (Siapa pemilik prioritas)
  2. Perangkat aba aba berbeda untuk para pemain yang memiliki prioritas memberi aba aba dengan mereka yang kurang berhak. (Aba aba)
  3. Teriakan konfirmasi atau penegasan pemahaman oleh pemain yang tidak akan memainkan bola. (Konfirmasi)

1. Pemilik Prioritas

Yang mendapat prioritas untuk menangkap bola pukul lambung dimulai dari outfielder tengah yang karena posisinya memiliki kendali terbaik atas siapapun yang ada di lapangan dan ia kemudian harus bergerak “masuk”. Anggapan dasarnya ialah agar pemain itu bergerak menghampiri bola pukul lambung mengendalikan pemain lain dan menyuruhnya menjauh atau menghindar untuk tidak mengganggu. Jika kita periksa diagram yang ada disini, maka akan tampak tanda tanda anak panah yang berasal dari masing masing pemain yang terarah ke pemain lain yang dapat diperintahkannya untuk menyingkir dan tidak mengganggunya. Semua outfielder memiliki hak menyuruh infielder untuk menghindar. Shortstop memiliki hak untuk menyuruh infielder lain untuk menghindar tetapi tidak kepada outfielder. Jika ia bergeser ke outfield maka ia harus memberi prioritas kepada outfielder yang sedang masuk untuk menangkap bola. Semua infielder boleh dan dapat menyuruh pitcher untuk menghindar dan membiarkan dia memainkan bola.

Saran Coaching

Di pertandingan baseball tingkat tinggi memang banyak coach yang tidak menginginkan pitcher untuk mencoba menangkap bola pukul lambung dekat ketika seorang infielder akan dapat menghampiri dan menangkapnya. Pendapat itu sangat masuk akal, karena bola pukul yang melambung tinggi boleh jadi tak akan dapat ditangkap pitcher yang kurang terlatih menangkap bola pukul lambung. Jadi biarkan pemain lain yang lebih terbiasa berlatih menangkap bola pukul lambung yang melakukannya. Di pertandingan baseball pemain muda belia, coach sebaiknya tidak terlalu keras memberlakukan norma itu. Di pertandingan sekelas itu pukulan lambung di infield biasanya tidak terlalu tinggi atau infielder tidak terlalu tanggap dan cepat untuk menyuruh pitcher mundur. Selain itu pitcher di kelas pertandingan anak muda justru cenderung atlet yang lebih piawai dan sangat diinginkan agar dialah yang menangkap bola itu. Jadi perintahkan kepada para infielder itu hanya menyuruh mundur pitcher jika ia sedang mundur untuk berupaya menangkap bola. Jangan suruh dia mundur jika permainan itu cukup mudah untuk dilakukannya dan dia sedang bergerak maju ke depan. Salah satu alasan yang dapat diberikan kepada infielder ialah bahwa mereka akan mudah terjatuh ketika bergerak di bukit pitcher untuk mencari posisi menangkap bola seraya melihat ke atas.
Meneruskan saran kepada coach di atas, di diagram atas dicantumkan bahwa pitcher boleh menghentikan catcher dan menyuruhnya mundur menghindar. Sesungguhnya diagram itu masih mematuhi kebiasaan lama. Di pertandingan tingkat lebih tinggi, pitcher akan jarang sekali perlu menangkap bola pukul lambung dekat di dalam infield, namun bagi pemain yang lebih muda maka pitcher kemungkinan memiliki peluang lebih baik untuk menangkap bola pukul lambung yang akan jatuh di depan plate. Bagi catcher keterampilan menangkap bola yang melambung tinggi boleh jadi sulit dipelajari, jadi sampai coach yakin bahwa catcher akan mampu melakukannya, biarkanlah pitcher yang mendapat prioritas melakukan tugas itu.

2. Aba Aba

Memerintahkan pemain berteriak “Gua”, “Saya”, “Los”, “Lepaskan” atau sejenisnya tidak sepenuhnya membantu menentukan siapa diantara mereka yang memiliki prioritas menangkap bola ketika ada lebih dari satu fielder yang berpeluang dapat menangkap bola. Untuk mengurangi kekalutan coach dapat mengajarkan agar pemain yang memiliki prioritas meneriakkan aba aba berbeda. Dapat diatur misalnya pemain berprioritas harus meneriakkan “Pergi” atau “Nyingkir” atau “Nyah” atau “Get out”. Siapapun yang sedang mencoba menangkap bola ketika mendengar aba “Pergi” atau “Nyingkir” atau “Nyah” harus segera menghindar agar tak mengganggu pemain yang berprioritas menangkap bola.

3. Konfirmasi

Teriakan lain yang juga berguna adalah konfirmasi atau untuk menyatakan bahwa fielder yang lain itulah yang akan menangkap bola. Dengan menggunkana contoh yang sama jika shortstop yang akan menangkap bola dan berteriak “Gua”, atau “Saya”. Seraya menghampiri arah jatuhnya bola ia mungkin mendengar outfielder tengah sedang berlari mendekatinya. Reaksi alamiahnya tentulah dia khawatir akan dilabrak outfileder tengah itu. Ia mungkin masih nekat tetap akan menangkap bola atau bisa jadi dia akan memperlambat lari mendekati bola itu dan membiarkannya jatuh ke tanah. Kemungkinan kejadian yang tidak lucu itu dapat dikurangi jika outfielder tengah dapat meneriakkan konfirmasinya bahwa shortstoplah yang akan menangkap bola. Ia akan meneriakkan “Tangkap”, “Tangkap” atau “Catch” atau semacamnya. Pemain yang sudah meneriakkan “Gua” atau “Pergi” juga lalu mendengar teriakan rekannya “Tangkap”, “Tangkap”, maka ia akan sangat percaya diri untuk tidak ditabrak dan akan menangkap bola itu.

Bola Pukul Lambung

Memperkirakan Dan Mendahului Bola Pukul

Ketika bola terpukul, coba menduga arah dan mendahului bola. Akan diperlukan waktu reaksi yang dapat dilatih dengan banyak pengulangan. Perhatikan bola mulai dari tangan pitcher sampai tiba di plate; dengan melihat lokasi lemparan pitch dan pengetahuan outfielder terhadap hitter akan dapat membuat outfielder dapat mengantisipasi kemana bola akan terpukul sehingga dapat mendahului bergerak mendekatinya.

Gerak Kaki

Memang sulit bahkan boleh jadi hampir tidak mungkin untuk secepatnya mendekati bola tanpa gerak kaki yang baik dan cekatan.

Ketika bola terpukul kearah sisi fielder, gerak pertama yang harus dilakukan adalah membuat langkah silang (crossover step).
Ketika bola terpukul melewati atas kepala, maka langkah pertama berupa langkah undur sedikit lalu diikuti dengan sebuah langkah silang.

Jika arah lari outfielder akan melampau tempat jatuh bola, dia harus menghentikan larinya dan melangkah kembali ke arah dalam (arah asal larinya). Pemain harus sudah menghadap ke bola ketika dia sudah mengubah arah gerakannya.

Ketika bola terpukul lurus melewati atas kepala, langkah pertama adalah membuat langkah mundur yang panjang (deep drop step) dengan kaki di sebelah lengan lempar.

Alasan untuk mundur di sebelah lengan lempar ialah agar ketika pemain perlu berputar ketika sedang berlari balik ke arah bola, maka akan lebih mudah berganti dari sisi lengan lempar ke sisi tangan berglove untuk melakukan tangkapan daripada ketika berbelok ke arah sebaliknya.

Salah satu bola pukul lambung yang paling sulit diduga adalah yang terpukul langsung ke arah outfileder. Jika tak segera dapat dikenali apakah bola akan lewat diatas kepala atau akan jatuh di depan, maka pemain harus berhenti bergerak sesaat. Yang paling buruk dan tak boleh dilakukan adalah pemain mencoba menebak. Jadi berhenti bergerak, lalu coba tentukan kemana bola akan jatuh dan dengarkan. Outfielder yang lain mungkin dapat melihat lintasan bola lebih baik dan meneriakkan apakah harus mundur atau justru harus maju ke depan.

Lari Cepat

Segera sesudah memperkirakan dimana bola akan jatuh, berlarilah sekencang kencangnya kesana. Cara itu akan memberi waktu kepada outfielder untuk membuat penyesuaian seperlunya ketika perkiraan tempat jatuh bola sedikit keliru. Jika berlari santai ke arah jatuh bola sedangkan bola akan jatuh lebih jauh lagi daripada perkiraan semula, maka outfielder mungkin tak lagi punya waktu untuk tiba di tempat jatuhnya bola.

Jangan Berlari Dengan Mendaratkan Tumit

Jika outfielder berlari dengan mendaratkan tumitnya, maka bola akan tampak memantul mantul tidak keruan. Kejadian ini acap terjadi ketika outfielder berlari santai ke arah jatuhnya bola. Berlarilah kencang dan upayakan agar mendarat dengan kaki sebelah depan atau telapak sehingga pandangan pada bola akan lebih mantap.

Segera Cari Posisi Di Belakang Bola

Outfielder akan mendapatkan bahwa kekencangan lemparan dan waktu untuk melempar akan lebih baik jika ia berhasil mengambil posisi di”belakang” bola atau dia harus menghadapi datangnya bola pukul itu. Jika dapat menghadap datangnya bola ketika bola sudah mulai menurun dan outfielder mulai bergerak ke arah sasaran lempar seraya menangkap bola.

Mengitari Bola

Kadangkala outfielder harus berlari sprint secepat yang dia bisa sehingga memiliki kesempatan untuk dapat menangkap bola. Ada kalanya bola terpukul cukup tinggi sehingga outfielder akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengambil posisi di depan arah datangnya bola. Salah satu tehnik untuk membantu agar berposisi baik untuk menangkap bola adalah dengan mengitari bola sehingga outfielder akan ada di posisi di depan arah datangnya bola. Kalau bola terpukul ke arah sisi outfielder sangatlah besar risikonya untuk berupaya mencoba mendatangi bola pada sebuah sudut datang untuk memotongnya. Jika taksiran kecepatan dan jarak bola, maka sangat mudah outfielder akan terkecoh sehingga bola akan melewatinya. Dengan mengambil sudut datang yang lebih dalam, maka fielder akan dapat mengitari bola dan lalu menangkapnya seraya bergerak maju untuk menangkapnya di depan fielder. Memang akan perlu waktu lebih lama untuk mendekati bola, namun outfielder akan mendapat posisi yang lebih baik bukan saja untuk menangkap bola tetapi juga ia dapat membuat lemparan yang lebih tepat sasaran. Diagram berikut menunjukkan sudut datang yang salah dan sudut datang outfielder yang baik untuk menghampiri bola.

Membelakangi Bola

Ketika mundur ketika bola terpukul yang lewat tepat diatas kepala, penting agar langkah mundur itu dimulai dengan berputar ke arah sisi lengan lempar. Jika putaran tubuh dilakukan ke arah sisi tubuh yang memakai glove membelakangi bola di sisi tubuh yang lain akan menyebabkan pemain harus membuat tangkapan dengan cara “backhand” yang akan lebih sulit dilakukan. Dengan membuat langkah mundur di sebelah lengan lempar, pemain akan mendapat posisi untuk memutar membelakangi bola lebih cepat jika lintasan bola melengkung ke arah garis batas. Cara itu dapat dilakukan baik oleh pemain pelempar kidal maupun pelempar kanan. Putaran tubuh harus dilakukan secepat mungkin.
Kendatipun keterampilan ini tidak sering digunakan namun akan memerlukan banyak latihan sebelum pemain mahir melakukannya. Tentunya sebuah tangkapan gemilang dapat menjadi ganjaran sangat memuaskan bagi pemain manapun juga.

Putaran Ke Arah Dalam

Putaran ke arah dalam digunakan ketika mengejar bola pukul lambung dari sudut dan lalu perlu mengubah arah lari. Pemain harus menjejakkan kaki dan membuat tolakan dengan kaki sebelah luar dan lalu membuat langkah membuka dengan kaki yang di sebelah belakang agar dapat mengubah arah lari. Keuntungan melakukan putaran ke arah dalam ialah agar pemain masih tetap dapat melihat bola sepanjang waktu pendekatannya itu.

Memainkan Bola Pukul Lambung Menghadap Matahari

Salah satu permainan yang sangat sulit dilakukan adalah bola pukul lambung atau bola pukul lurus (line drive) yang terpukul dimana outfielder harus menghadapi matahari yang menyilaukannya.

Mendahului Dan Menduga Arah Bola Akan Jatuh

Penting untuk dapat ”mendahului” bola dan dengan cepat mengantisipasi dimana bola akan jatuh. Acapkali pandangan pada bola hilang segera setelah terpukul, sehingga pemain harus terlebih dahulu menganalisa kemana bola akan jatuh.
Dengar
Segera setelah kehilangan pandangan atas bola karena silau, teruskan ke arah kemana bola diperkirakan akan jatuh. Dengarkan teriakan outfielder lain yang akan mengkoreksi arah lari jika salah.

Melindungi Mata Terhadap Cahaya Silau

Ketika berputar untuk mencari bola, apakah ketika sedang berlari atau setelah tiba ditempat dimana bola diperkirakan akan jatuh, gunakanlah glove sebagai tirai untuk melindungi cahay matahari yang menyilaukan itu. Penting untuk tidak melihat langsung ke arah matahari. Jika berlari di sebuah sudut sehingga sulit menggunakan glove sebagai tirai, gunakanlah tangan lempar untuk menutup sinar matahari.

Bola Pukul Lambung Di Atas Matahari

Seraya berlari, jika bola berada di atas matahari, tutupi mata dengan glove dengan melihat dari atas glove ke arah bola.

Bola Pukul Lambung Tepat Di Depan Matahari

Kalau bola sudah menurun dan tepat berada di depan matahari, ganti posisi glove dengan memandang dari bawah glove. Pemain akan dapat melihat dari bawah glove menantikan bola jatuh ke bawah posisi matahari. Banyak pemain membuat kesalahan untuk tetap melihat dari atas glove. Sebuah cara yang keliru, karena ketika bola meulai turun, maka akan lebih mudah dilihat dari bawah glove. Jika pemain mencoba melihat dari atas glove, maka dia mungkin tak akan melihatnya.

Bola Pukul Ke Tanah (Ground Balls)

Hampiran

Bagaimana pemain dapat menangkap bola pukul ke tanah acap ditentukan oleh situasi dan dimana posisi pemain itu terhadap bola pukul itu.

Kalau tidak ada pelari di base, bola terpukul ke dekat outfielder, maka tujuan utama adalah agar bola tetap berada di depan pemain dan lalu ditangkap dengan “bersih” (sekali jadi) agar supaya pelari tidak lagi dapat majuke base Dua. Pada situasi seperti ini maka seyogyanya pemain mampu menangkap bola pukul ke tanah sebagaimana layaknya pemain di infield.


Kalau ada pelari di Dua dan bola terpukul tajam ke arah outfielder, maka mungkin dia akan merasa bahwa dia mungkin akan dapat melempar mati pelari itu di “home”. Dalam hal seperti itu, maka pemain harus menangkap bola di sebelah sisi tubuh yang memakai glove.

Menyerbu Bola

Kecepatan serbuan pemain ke arah datangnya bola juga ditentukan oleh situasi yang dihadapi saat itu. Jika ada waktu untuk menangkap bola sebagaimana layaknya yang dilakukan infielder, maka pemain berkehendak untuk menghampiri bola secara terkendali dan lalu mengambil posisi untuk menangkapnya. Walaupun situasi menghendaki agar pemain bergegas menghampiri bola masih perlu untuk memperlambat lari dan mengendalikan diri sebelum sampai ke dekat bola. Dengan demikian pemain akan dapat bersiap untuk melempar dengan cermat. Waktu yang digunakan untuk memperlambat lari dan mengendalikan diri itu jauh akan lebih baik daripada tergesa gesa dan lalu membuat lemparan ngawur.
Masalah lain yang dapat muncul akibat terlalu tergesa gesa menyerbu bola pada kecepatan penuh adalah memilih saat atau “timing” menghampiri bola untuk menangkap bola pada pantulan bola yang tinggi dan atau agar mampu menangkap bola pada pantulan yang canggung.

Mengitari Bola

Jika masih ada waktu, pastikan agar mengitari dulu bola agar bola itu dapat selama mungkin ada di depan pemain. Jika bola terpukul ke arah kiri atau kanan pemain, maka akan berbahaya untuk mendatanginya langsung dan berusaha untuk memotongnya arah bola. Jika pemain salah menaksir kecepatan bola maka dia akan melewati pemain itu. Dengan mengambil sudut datang yang lebih dalam, pemain dapat “mengitari” bola dan memposisikan bola berada dihadapannya. Memang akan perlu waktu lebih lama untuk sampai ke bola, namun posisi pemain akan lebih baik bukan saja untuk menangkap bola tetapi juga dapat melempar lebih cermat.

Backhand Atau Forehand

Walaupun pemain selalu berupaya untuk mengitari bola dan menempatkan diri di depan arah datangnya bola, namun ada kalanya pemain harus menangkap bola di kedua sisi tubuhnya, bukan ketika menghadapi bola. Berlatihlah menangkap bola di kedua sisi itu baik secara “forehand” maupun secara “backhand”. Ketika menangkap bola pukul ketanah itu pertahankan agar tubuh berada di dekat tanah atau membungkuk dan glove diposisikan di dekat permukaan tanah. Ingatlah, bahwa akan jauh lebih mudah mengangkat glove daripada harus sekonyong konyong menurunkannya.

Melempar

Seorang outfielder harus mampu melempar jarak jauh dengan ketepatan sasaran yang cermat adalah keterampilan yang teramat penting. Lebih penting lagi, kemampuan itu dapat lebih ditingkatkan dan dipelajari. Setelah belajar cara melempar dengan baik dan terus membina kemampuan itu, maka seorang outfielder baru dapat membanggakan kehebatannya sebagai outfielder. Beberapa outfielder acap “mengitari” bola ketika terjadi “base hit” – pukulan dimana batter pasti akan berhasil mencapai base (yang diuraikan di bagian Bola Pukul Ke Tanah) – lalu dia berpura pura bersikap tidak terburu buru, dengan harapan pelari akan mencoba base tambahan atau berupaya berbelok melebar di base. Itu sebuah upaya menjebak pelari untuk dapat dimatikan. Apa yang dilakukan outfielder itu karena dia sangat percaya diri akan kemampuannya sendiri. Outfielder akan menginginkan agar bola secepat mungkin di lempar ke infield untuk mencegah pelari maju ke base berikut, namun dipikirannya juga terbersit keinginan agar pelari itu akan nekat mencoba berlari maju karena rasa percaya diri akan kemampuannya itu! Pemain harus selalu meningkatkan kemampuan dan keterampilannya untuk melempar bola dengan sebaik baiknya. Harapannya adalah agar pemain memperhatikan dengan baik untuk senantiasa membina kemampuan lemparnya sebagai salah satu keterampilan yang selalu dijunjung tinggi.
Saran Untuk Coach
Jika pemain mampu melempar dan menangkap, jangan sekali kali menganggap bahwa dia tahu cara melempar dan menangkap dengan benar dan baik. Bermain di outfield, cara memegang bola dan gerak mekanik melempar yang tidak tepat dapat membuat pemain itu melempar kemana mana ke arah yang tidak dikehendaki. Kememapuan melempar harus senantiasa diasah.

Tepat Ke Pemain Potong (Cutoff)

Banyak juga coach yang berteriak teriak kepada outfielder ketika ada pukulan ke outfield, “Lempar ke pemain potong atau pemain cegat (atau cutoff)”, “Tembak pemain potong”, “Kenapa bukan kamu lempar ke cutoff?”. Namun jika memang belum pernah dilatihkan permainan permainan yang akan memerlukan pengambilan keputusan oleh para pemain, maka para outfielder itu tak akan pernah memahami mengapa penting untuk melempar dengan sasaran ke pemain potong atau cegat. Selama latihan bola tak selamanya harus dilempar langsung ke sebuah base. Perintahkan para pemain meneriakkan “Potong” atau “Cegat” seraya menyebutkan arah base yang harus dituju.
Ketika berlatih melempar ke pemain cegat, jangan pula melupakan pengambilan posisi pemain yang bertugas untuk mencegat lemparan dari outfield itu. Sebuah contoh (dari sudut pandang outfielder). Outfielder ini memiliki lengan lempar yang kuat. Ada pelari di satu dan terjadi pukulan “hit”. Pelari dapat dipastikan akan mencoba mencapai base tiga. Outfielder yakin bahwa ia dapat mematikan pelari itu di base tiga. Namun terjadi masalah ketika pemain cegat memasuki daerah outfield terlalu jauh ke dalam. Kalau outfielder melempar ke pemain cegat, maka pelari mugkin tak akan dapat dimatikan di tiga. Jika ia lempar langsung ke tiga maka ia sudah luput dari sasaran pemain cegat dan dalam kedua situasi itu ia akan merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan. Coach dapat memberinya umpan balik yang dapat menyenangkan hatinya, namun outfielder tidak terlalu sering mendapat peluang mematikan pelari di base kendatipun coach mengucapkan sesuatu yang menghiburnya, ia pasti masih merasa bahwa peluang mematikan seorang pelari telah dirampas dari dia.
Karena sebab sebab itu, pemain posisi infielder harus diajari untuk senantiasa mengetahui kekuatan lengan lempar dan posisi masing masing outfielder yang akan melakukan lemparan. Juga pemain potong atau cegat, harus pula melempar secara cermat dan tepat sasaran. Mereka tak boleh memperpendek jarak lemparnya sendiri sampai separuhnya agar lemparannya cermat. mereka justru harus memaksimalkan kekuatan lengan lempar para outfielders. Ingatlah selalu bahwa persoalan selalu ada dua sisi. Kalau pemain potong membuat kesalahan karena mengambil posisi terlalu jauh dari outfielder, maka outfielder itu harus menyadari kekurangan atau kelemahan dan lalu berupaya melakukan lemparan dengan satu pantulan kepada pemain potong.

Petunjuk Bagi Pemain

Tak ada yang akan membuat coach bersikap negatip daripada ketika lemparan outfielder luput dari sasaran dan tidak tepat ke pemain potong. Upayakan selalu membidik arah yang rendah. Jika pemain potong berjarak terlalu jauh ada kecenderungan untuk melempar tinggi. Cara itu sungguh keliru. Lemparanitu justru harus diarahkan rendah. Sebuah pantulan akan lebih mudah ditangani oleh pemain potong dan bola juga akan lebih cepat mencapai pemain itu daripada ketika dilempar tinggi ke udara. Outfielder juga terhindar dari celaan yang diterimanya karena tidak melempar tepat sasaran ke pemain potong.

Melompat Gagak (Crow Hop)

Maksud melakukan gerak melompat gagak atau crow hop adalah dengan tujuan menempatkan diri pemain untuk dengan cepat ada diposisi melempar segera setelah menangkap bola, ditambah manfaat menggunakan daya dorong yang dibangkitkan gaya lebam (momentum) ke arah sasaran lempar.
Pemain hanya menggunakan gerak lompat gagak ketika:
  • Pemain itu tahu benar kemana bola harus dilempar.
  • Ada keperluan untuk secepat cepatnya melempar bola ke infield baik untuk mematikan pelari atau menahannya untuk tidak maju lagi.
  • Pemain menangkap bola dihadapannya – kalau di samping tubuh, maka lompat gagak tidak berguna dan hanya sia sia.
  • Pemain sedang bergerak searah dengan sasaran lemparnya. Lihat Mengitari Bola Pada Bola Pukul Lambung dan Bola Pukul Ke Tanah di “Notes” Tentang Menjadi Outfielder.
Di bawah ini ada dua rangkaian foto yang memperlihatkan gerakan lompat gagak untuk bola pukul lambung dan untuk bola pukul ke tanah. Perhatikan foto foto ini dan uraian gerak itu akan diberikan di bawahnya.


Melompat Gagak (Crow Hop) – Menghampiri Bola (Approach)
Penting artinya bahwa pemain harus bergerak ke arah sasaran lempar ketika menangkap bola. Gerak Lompat Gagak itu digunakan untuk menempatkan diri pemain ke posisi lempar searah dengan gerakan si pemain. Tak ada lagi gunanya kalau pemain harus mengubah arah lari dengan arah lemparnya.
Gerak Lompat Gagak adalah sebuah gerak yang terkendali. Artinya pemain tak boleh berlari sekencang kencangnya untuk lalu mengerjakan gerak lompat gagak. Pada bola pukul yang melambung tinggi, pemain akan punya waktu untuk mengitari bola untuk dapat menghadapi datangnya bola dan lalu bergerak maju secara terkendali untuk menangkap bola, maka pemain akan berada di posisi yang baik untuk melakukan gerakan lompat gagak. Jika pemain menangkap bola sambil berlari kencang ke arah sisi, atau mundur, maka pemain tidak akan berada pada posisi baik untuk melakukan gerak melompat gagak. Sama juga dengan ketika menangkap bola pukul ke tanah. Bedanya dengan bola pukul ke tanah, ialah pemain tidak perlu menantikan bola itu turun ke tanah. Pemain harus berlari kencang mendekatinya sehingga dia perlu sekali memperlambat lari ketika sudah mendekati bola. Memperlambat lari adalah proses mengubah lari sekencangnya menjadi berlari cepat secara terkendali dimana pemain masih mungkin menangkap bola. Bukan hanya melambatkan lari, menyangkut juga memperkirakan pantulan bola dan mengatur gerakan langkah kaki. Ingat! Pemain masih perlu menangkap bola pukul ke tanah itu di sisi tubuh yang memakai glove dan juga dengan kaki di sebelah yang sama berada di depan. Melambatkan lari akan memposisikan pemain untuk dapat terus maju ke depan.
Perhatikan foto di atas bahwa kaki di sebelah lengan berglove berada di depan ketika menangkap bola. Setelah melakukan tangkapan kaki di sebelah belakang akan mengawali gerak melompat gagak. Dikerjakan dengan cara mengayunkannya ke depan kaki yang di sebelah lagi. Kaki diputar seraya digerakkan ke depan agar berposisi tegak lurus dengan garis arah sasaran. Pada saat yang sama bahu dan pinggul depan juga di arahkan ke sasaran lempar. Kombinasi gerakan gerakan itu akan memposisikan tubuh pelain untuk melempar.

Lompat Gagak – Hasil Gerakan.

Ketika mendaratkan kaki, pemain berada di posisi siap untuk melempar. Cukup dengan melanjutkan gerakan dengan melangkah dan lalu melempar. Dari mulai menangkap bola sampai ke gerak lanjut (follow through) lemparan, seluruh rangkaian gerakan itu harus dilakukan dengan mulus dan lancar.

Petunjuk Untuk Pemain


Gerakan melompat gagak adalah gerak yang terkendali yang memerlukan keseimbangan tubuh yang baik. Gerak itu digunakan untuk memposisikan tubuh outfielder untuk melempar. Jangan tergesa gesa! Jika pemain melakukan gerak lompat gagak terlalu tergesa gesa, lengan lempar tidak akan berada di posisi mengikuti tubuh untuk membuat lemparan yang baik. Pemain harus memindahkan bola, mencari pegangan bola yang baik, lalu mendarat untuk mengawali gerak melempar. Akan memerlukan waktu. Hasil lemparan akibat pemindahan bola yang dilakukan dengan benar akan lebih dari cukup untuk mengkompensasi waktu yang terbuang itu.

Mengajarkan Gerak Melompat Gagak (Crow Hop)

Saran Coaching

Perintahkan pemain melakukan setiap langkah gerakan dan lalu menghentikannya.
  1. Minta pemain berdiri diam dengan kaki di sebelah glove berada di depan, bola berada di dalam glove (seakan akan baru saja menangkap bola)
  2. Minta pemain mengayunkan kaki sebelah belakang ke depan (masih belum melakukan lompatan), menggerakkan kaki itu tinggi tinggi dan di depan kaki yang sebelah lagi, menjejakkan kakinya arah tegak lurus dengan arah sasaran lempar.
  3. Kaki yang sebelah lagi sekarang berada di belakang. Minta pemain mengangkat kaki itu dan mengangkat lututnya setinggi ikat pinggang dan bahu terarah ke sasaran lempat.
  4. Lalu minta pemain melangkah dan melempar. Kalau pemain sudah merasa terbiasa dan nyaman dengan gerakan yang masih terpatah patah itu persingkat waktu menahan gerak setiap langkah sampai menjadi rangkaian gerak yang alamiah.

Langkah Geser (Shuffle)

Akan banyak kemungkinan ketika pemain tidak dapat bersiap untuk menggunakan gerak lompat gagak. Jadi adakah cara lain mengerahkan gaya lebam untuk melempar jarak jauh? Jawabannya ada pada melakukan langkah geser yang sangat mirip ketika pelari mengambil awalan menjauhi base. Bedanya hanyalah pada geseran kaki yang terakhir sebelum melempar bola, pemain membuat langkah silang dengan kaki sebelh belakangnya dari belakang kaki sebelah depan, menjejakkannya dan lalu melempar.
Dibawah ini ditunjukkan langkah geser itu dilakukan mulai dari gambar sebelh kanan ke arah kiri. Pemain baru saja menangkap bola pukul ke tanah secara backhand dan sudah menjejakkan kaki kanannya. Ia berada sangat dalam di outfield sehingga tidak mungkin hanya melangkah saja untuk melempar. Jadi untuk mendapatkan gaya lebam ke arah sasaran lemparnya, ia melakukan langkah geser ke arah sasaran dan lalu melempar.
Langkah langkah:
  1. Bola sudah ditangkap dan pemain sudah memperlambat lari dan menjejakkan kaki sebelah belakangnya.
  2. Melangkah ke depan dengan kaki di sebelah depan ke arah sasaran. Bahu masih dalam keadaan “tertutup” (closed).
  3. Jejakkan kaki sebelh depan dan mulai membawa kaki sebelah belakang ke depan. Pemain sudah mulai mendapat gaya lebam (momentum).
  4. Silangkah kaki sebelah belakang dibelakang kaki sebelah depan. Gerak ini masih mirip dengan gerak lompat gagak, tetapi karena tubuh pemain sudah terarah ke sasaran lempar, akan lebih mudah untuk menyilangkan kaki ke belakang. Gerak begitu juga akan menjaga agar bahu dan pinggul sebelh depan masih menutup dan siap melempar.
  5. Jejakkan kaki sebelah belakang, melangkah dengan kaki sebelah depan, dan lempar bola.

Gunakan Kapan Saja

Gambar contoh di atas adalah untuk menangkap bola dengan backhand, tetapi lengkah geser dapat digunakan untuk semua permainan. Beberapa pemain lebih menyukai melakukan gerak langkah geser daripada lompat gagak dan tetap menggunakannya walaupun tidak atau belum perlu dilakukan. Coach yang membuat tulisan ini lebih cenderung kepada gerak melompat gagak karena lemparan akan lebih kencang dan lebih cermat, namun gerak langkah geser masih tetap perlu dipelajari juga yang sewaktu waktu akan perlu dilakukan.
Kekuatan Lengan Lempar
Tak ada cara lain memperkuat lengan lempar kecuali dengan latihan melempar. Acapkali pelain bertanya bagaimana cara memperkuat lengan lempar. Memang ada beberapa cara melalui angkat beban dan latihan latihan pembinaan yang lain, ada keyakinan bahwa satu satunya cara yang berkhasiat untuk memperkuat lengan lempar dengan latihan melempar jarak jauh (long toss).

Petunjuk Untuk Pemain

Beberapa cara penting melempar cermat sasaran dari outfield mencakup:
  • Selalu menggunakan ayunan lengan penuh (lebar), jangan menggunakan ayunan lengan pendek seperti yang biasa dilakukan infieldwer dan juga oleg catcher.
  • Pegangan harus selalu dengan jari melintang di jahitan bola. Pegangan yang tidak tepat akan membuat layangan bola berbelok atau menukik ketika dilempar.
  • Lemparan dilkukan dengan ayunan lengan dari atas, buka tiga perempat atau bahkan dari samping. Melempar bola dari ayunan lengan di atas dan dengan pegangan bola yang benar akan membuat lemparan menjadi lurus.

Dialihbahasakan dari Website: QCBASEBALL

Senin, 19 April 2010

Pengorbanan Diri Di Olahraga Baseball

Pemain Boston Red Sox Julio Lugo melakukan pukulan ketok dengan manis pada pertandingan World Series tahun 2007.
Sumbangan Nick Laham/Getty Images


Melakukan pukulan ketok (bunt) memang tidak tampak canggih dan menggairahkan, namun keterampilan melakukannya tetap harus dimiliki sebagai pelengkap perangkat persenjataan seorang hitter. Pemukul home run terbaik sekalipun belajar cara melakukan pukulan ketok, karena ada situasi tertentu dimana siasat mengorbankan diri hampir dipastikan harus dijalankan. Misalnya: ada pelari di base satu, belum ada mati (0 out) pada inning tambahan. Siasat permainan yang harus dijalankan adalah untuk memajukan pelari itu ke posisi dimana ia lebih berpeluang membuat angka sekaligus mencegah regu jaga melakukan double play.
Selain itu, jika pemukul adalah pelari handal yang cepat, pukulan ketok juga dapat jadi siasat ampuh untuk dapat mencapai base. Regu jaga dapat dikejutkan dan jika dilakukan dengan benar dapat menjadi tontonan indah di lapangan baseball.
Pitcher Houston Astros - Andy Pettitte mencoba memukul ketok pada playoff tahun 2005.
Sumbangan Brian Bahr/Getty Images


Sikap Awal Melakukan Pukulan Ketok - Bunting Stance
Masuklah ke box batter secara biasa. Mungkin batter ingin sedikit bergeser ke tengah atau ke depan box, namun jangan sampai maksud untuk melakukan pukulan ketok ditebak dan diketahui regu jaga. Ambil sikap siap pukul biasa seakan akan hendak melakukan pukulan dengan ayunan.
Saat pitcher melepas bola, putar tubuh menghadap ke arah pitcher. Kaki sebelah belakang dapat digeser ke arah dekat plate, tetapi jagalah agar tak ada bagian kaki yang keluar garis box. Jika kaki sampai keluar garis box sebelum perkenaan dengan bola terjadi, maka batter akan otomatis dinyatakan mati.
Reggie Willits dari Los Angeles Angels dengan manis membuat 'squeeze bunt' di sebuah pertandingan tahun 2007. Perhatikan bagaimana ia menempatkan jarinya di belakang bat.
Sumbangan Stephen Dunn/Getty Images


Pegangan Memukul Ketok - Bunting Grip

Pemain Florida Marlins, Alejandro De Aza, melakukan pukulan ketok di pertandingan tahun 2007. Posisinya tidak bagus, karena bolanya lebih tinggi dari posisi batnya.
Sumbangan Marc Serota/Getty Images


Bengkokkan lutut sehingga sikap tubuh merendah dan pegang erat bat dengan tangan yang di ujung bawah bat. Geser tangan sebelah atas kira kira ke bagian tengah bat. Pegangan bat dengan tangan itu seakan akan bat dicubit dengan tangan itu dan ujung jari jempol di sebelah atas dan jari lainnya di bawah bat.
Kedua tangan dijaga agar tetap berada di belakang bat, sehingga bola tak akan mengenai jari. Banyak kecelakaan terjadi pada pemukul ketok yang buruk mematahkan jarinya ketika mencoba memukul ketok dengan cara yang tidak benar.

Pegangan Bat

Reggie Willits dari Los Angeles Angels menarik kembali batnya ketika mencoba mengetokkan bola pada pertandingan 2007.
Sumbangan Dave Sandford/Getty Images


Peganglah bat sejajar dengan tanah, atau dengan bagian yang gemuknya sedikit lebih tinggi daripada bagian pegangannya.
Kuncinya adalah agar perkenaan dengan bola terjadi di bagian paruh bawah agar bola pukul itu akan jatuh ke tanah segera seseduah menyentuh bat. Pukulan ketok yang melambung merupakan bencana. Pelari tak akan dapat maju jika bola ditangkap di udara, dan bahkan sangat mungkin akan terjadi double play.

Titik Penentuan

Juan Pierre dari Los Angeles Dodgers memukul ketok bola pada pertandingan 2007. Perhatikan bagaimana ia mengarahkan bola menyusuri garis base tiga dan ia menjaga agar batnya tinggi dizona strike.
Sumbangan Stephen Dunn/Getty Images


Cara yang bagus dan amat disarankan ialah agar batter memegang bat di zona strike paling atas. Jika bola melayang lebih tinggi, biarkan lewat, karena lemparan itu akan dinyatakan sebagai ‘ball’. Jika itu terjadi, tarik kembali bat dengan cara menariknya ke atas dan geser mundur kaki sebelah belakang (dan bila lemparan mengarah ke dalam, lompat menghindar). Lemparan pitch yang rendah lebih mudah di ketok.

Mengenai Bola
Ketika bola mengenai bat, hitter tak boleh mengayun maju bat itu karena dapat berakibat pukulan ketok itu akan terlalu keras. Gaya lebam bola sebaiknya hanya cukup menempatkan bola ke permainan yang cukup jauh dari jangkauan catcher agar dapat berhasil.
Pemukul ketok dapat mengatur sudut bat untuk mengarahkan bola menyusur garis base agar lebih efektip lagi. Harus selalu diingat bahwa jika pemukul mencoba pukulan ketok ketika sudah ada dua strike dan bola terpukul foul, maka hitter akan dinyatakan mati, sama dengan situasi strike out.

Siasat Memainkan Pukulan Ketok

Jose Reyes dari New York Mets mencoba membuat 'drag bunt' di pertandingan tahun 2007.
Sumbangan Jim McIsaac/Getty Images

Ada beberapa jenis/cara membuat pukulan ketok. Pukulan ketok geret (drag bunt), biasanya dilakukan hitter kidal dan berpeluang berhasil bagi pelari yang cepat. Pemain semacam itu memperoleh keuntungan dari awalan (start) larinya, mengejutkan pemain jaga dengan mengetok bola ke sepanjang garis base tiga. Jadi pada situasi ini hitter tak mengorbankan dirinya sendiri, ia justru berupaya agar dapat tiba di base dengan selamat mengandalkan kecepatan larinya dan posisi memukul yang lebih dekat ke base satu.
Pada permainan paksa (squeeze play),ada pelari di base tiga dan dia harus mulai lari ketika pitcher melepas bola dari tangan. Ketika pukulan ketok dilakukan, pelari itu sudah hampir mendekati home, namun hitter harus berusaha keras untuk mengetok mengenai bola. Batter dapat dipastikan akan dimatikan di base satu tapi pelari dari tiga akan masuk sehingga batter mendapat kredit RBI.

Sumber: baseball.about.com

Kamis, 08 April 2010

Berencanalah Agar Meraih Hasil

Jika memang amat mudah melatih baseball para pemain muda sehingga gampang berhasil, namun mengapa banyak sekali coach yang terbukti berkinerja buruk? Menurut pengamatan, kami lalu berpendapat bahwa terjadinya banyak coach yang buruk adalah akibat KURANGNYA PENGETAHUAN DAN KURANG MELAKUKAN PERSIAPAN! Sederhananya akibat TAK PUNYA Game Plan! Kalau yang tadi itu berita buruk, ada berita baik … kedua faktor itu dapat diajarkan dan keduanya dapat dipelajari! Jangan sampai lalu Anda mengaku tidak ada waktu lagi. Selalu ada waktu!

Hitung hitungannya adalah sebagai berikut:
Misalkan musim pertandingan yang panjangnya 15 minggu.
10 kali latihan selama 90 menit = 15 jam
20 kali main (termasuk pertandingan persahabatan d.s.b.) – 40 jam
Ngobrol ditelepon 2 jam per minggu= 30 jam
Ditambah rapat, evaluasi & pengerahan, hujan, pemotretan regu, memberi instruksi individu, perjalanan dan sebagainya. Sebut saja = 65 jam.
Ditambah apa lagi yang belum kita tambahkan, uang yang dibelanjakan untuk melakukan semua kegiatan itu! Jadilah semuanya 150 jam … 10 jam seminggu untuk sebuah hobby, melayani masyarakat, menyukai baseball, mengajar anak anak, atau apalah lagi alasan untuk menjadi seorang coach baseball.

Jadi, susunlah rencana…SEKARANG JUGA – kalau mau tetap tak menjadi sinting! Akibat yang pertama dirasakan adalah justru kita akan menghemat waktu, bukan membuang waktu. Anak anak asuh akan sangat menerimanya dengan sangat positip dan akan meningkatkan kinerja regu, dan sebagai hasil samping, para coach, orangtua pemain dan pemain akan menyaksikan seorang coach yang lebih baik yang merasa lebih bergembira!

Apa yang sesungguhnya diperlukan?
1. Minat untuk menjadi coach yang lebih baik.
2. SEBUAH PLAYBOOK. Dimana coach dapat menuliskan rencana latihan di kertas secara rapih. Jika disusun ada malam sebelum latihan atau pertandingan, ka coach akan meluangkan waktu sekitar 25 menit setiap minggu (jika latihan dua kali). Coach lalu akan ingat untuk melakukan perencanaan segera setelah latihan dimulai, karena akan ia bawa dan menjadi acuannya setiap kali latihan.

Petunjuk Membuat Playbook
• Masukkan juga semua surat menyurat yang diterima dan dikirim, catatan catatan, dan formulir dari liga, organisasi induk, sekolah yang biasanya dikumpulkan coach atau dibagikan kepada pemain. Simpanlah semuanya di “playbook” baru itu. Jadikanlah menjadi sebuah kebiasaan dan acuan utama dan teratur. Buku itu sebaiknya berbentuk “binder” 3 ring agar mudah menyisipkan dokumen baru.
• Tulislah saja dengan pinsil dan secara sederhana asal mudah dibaca. Jangan dibuat terlalu rumit, lakukan saja dengan tidak bersusah payah!
• Bermula dari latihan #2, coach harus meluangkan waktu 10-15 menit meninjau ulang konsep baru yang sudah diajarkan pada latihan #1 atau latihan sebelumnya. Kesalahan yang umum dilakukan coach (yang tidak saja membuang buang waktu) jika coach mengajarkan sebuah konsep dan lalu beranggapan bahwa semua pemain akan dapat mengerjakannya ketika tiba waktunya pada situasi pertandingan yang sebenarnya karena coach sudah mengajarkannya sekali. Dan akan sangat meruntuhkan rasa percaya diri pemain setelah sebuah “play” karena ia merasa memang ia sudah diajari. Tetapi jelas ia tak diajari cukup sempurna. Itu salah coach!

Apa isi binder?
• Nomor latihan
• Tanggal, jam dan tempat latihan
• Maksud dan tujuan latihan (sederhana saja)
• Setiap kegiatan atau drill. Catatlah apakah sifatnya pengulangan pelajaran atau konsep baru sama sekali
• Waktu yang disediakan untuk menjalankan kegiatan atau drill. JANGAN LEBIH DARI 20 MENIT! Jika coach selalu memakai arloji, maka ia akan kaget betapa banyak yang ia bisa capai dan betapa besar kegembiraan yang diperoleh anak asuhnya, bukan saja betapa banyak ilmu berbaseball yang dapat mereka pelajari. Kegiatan latihan tak boleh berhenti, harus tetap bergulir, namun jangan ada drill yang melewati jatah waktu 20 menit!!
• Juga segala sesuatu yang dapat membantu coach seperti coach mana yang akan menjalankan drill apa, pitcher mana berpasangan dengan catcher yang mana ketika melempar, pengingat kapan pertandingan atau latihan berikut harus dilakukan. Cukup ditulis singkat dan jelas, jangan terlalu banyak meluangkan waktu untuk hanya mencatat. Memang sesungguhnya bukan sebuah kerja. Melainkan sebuah kegiatan agar melatih tidak menjadi pekerjaan berat dan membosankan! BERSENANG SENANGLAH! .

Catatan Piet Burhanuddin: tulisan ini tidak saja dapat dijalankan oleh coach baseball, melainkan juga oleh pengurus club, pengurus daerah bahkan pengurus besar organisasi puncak baseball dan softball. Ingatlah selalu bahwa “If you fail to plan, you plan to fail”. Selain itu rencana tidak boleh tinggal rencana – harus dijalankan kalau mau mencapai hasil seraya terus disempurnakan. “Plan your work and work your plan”.

Cara Melempar Curveball – Langkah Demi Langkah


Pegangan curveball Pegangan bola untuk melempar curveball sesungguhnya cukup sederhana dan tidak seperti jenis lemparan pitch yang lain, pegangan itu masih memungkinkan pitcher menggenggam bola dengan baik sehingga masih mudah dikontrol olehnya.
Tujuan jenis lemparan curveball ini adalah agar bola dengan tajam membuat tukikan ke bawah ketika sudah di dekat plate sehingga akan lewat dibawah bat yang diayunkan hitter.
Kunci lemparan itu adalah agar bola berpusing dari atas ke bawah (topspin), sehingga menimbulkan tahanan angin dengan jahitan bola sehingga bola lemparan pitch itu seakan akan jatuh atau menukik.

Simpan Rahasia

Sama dengan melempar jenis pitch lainnya, merahasiakan niat untuk melempar suatu jenis pitch adalah siasat yang harus dipakai. Separuh pertempuran melawan hitter ada pada "rahasia" itu. Lemparan curveball akan jauh lebih ampuh jika hitter sedang berharap dan menantikan lemparan fastball.

Sembunyikan bola di dalam glove ketika melampar pitch. Kalau tidak disembunyikan, maka batter (atau pelari atau base coach)akan dapat mengetahui lemparan apa yang akan dilempar pitcher.

Gerak Lempar
Gerak mekanik melempar curveball tidak berbeda jauh dengan lemparan lainnya. Pegangan ketika melepas lemparan itulah yang berbeda.


Lakukan gerak "wind up" seperti biasa, dan lempar dengan kecepatan ayunan lengan yang sama dengan ketika melempar fastball. Jangan sekali kali memperlambat kecepatan ayunan itu. Bola akan secara alamiah melambat dengan sendirinya ketika mendapat tahanan udara ketika berpusing kebawah sesuai dengan pegangan (curveball spin). Sudut lengan juga harus diperhatikan. Bayangkan seakan akan melakukan kampakan dengan sebuah kapak yang pegangannya pendek (semacam "tomahawk") seraya memegang bola ditangan lempar. Bagi pelempar kanan, telapak tangan harus menghadap ke arah base satu ketika bola melintas di atas kepala. Untuk pelempar kidal - terbalik, telapak tangan itu menghadap ke base tiga.
Siap Melepas Bola

Pertahankan agar sudut lengan masih sama, agar supaya batter tak dapat mem"baca" jenis lemparan curveball yang menjadi niat pitcher.

Ketika melempar, pergelangan tangan ter"kokang" dan terputar mengarah ke tubuh pitcher - bola dan telapak tangan menghadap pitcher. Siku tetap menghadap ke atas, putar pergelangan dan "sentak"kan pergelangan ke bawah seraya melepas bola. Bola tak akan bergerak patah jika gerak "sentakan"(snap)itu tidak dilakukan. Akan perlu banyak percobaan untuk menemukan titik perlepasan bola yang benar dan nyaman.
Gerak Lanjut - Follow Through
Melakukan gerak lanjut amat penting dilakukan, karena jika tidak dikerjakan, maka bola mungkin sekali akan meng'gantung'. Bola tidak akan bergerak patah ke bawah, ia mungkin akan berada di zona strike, dan pemukul yang cukup baik dapat memukul jauh hingga ke luar lapangan.

Seraya melakukan gerak lanjut, punggung tangan harus menghadap ke arah batter. Kaki putar (pivot foot - yang berada di atas bukit) harus terus bergerak maju, dan biarkan lengan lempar terayun menyilang tubuh sehingga pitcher akan tetap berada pada titik keseimbangan tubuh yang optimum dan siap menjaga daerah pertahanan untuk fielding.